Runa dari Sumba | Ulas Bukuku
Berawal dari keisengan mencoba baca novel biar tak terlalu spaneng. Bertemulah saya dengan akun seorang penulis yang suka membuat quote agak kekiri-kirian. Kebetulan beliau tengah rilis buku barunya yang dinamai "Melangkah". Sehingga datanglah novel ini. Dan surpres-singli (surprisingly), nama tokohnya sama dengan nama tengah saya, Runa. Ditambah satu tokoh lagi bernama Hasan, si detektif. Mulai nyethuk-lah saya dengan cerita di dalamnya. Dua tahun lalu, lima babak, tiga puluh enam episode selesai dalam dua hari.
Karena ini cukup spesial bagi saya, maka tak cukup kiranya hanya mengulas novel ini tanpa menceritakan kembali.
BABAK I
Kita diperkenalkan dengan Runa Anapaku di tengah pertempuran ala Sumba, Pasola. Runa yang masih anak-anak awalnya merasa bangga karena cuma dia satu-satunya bocah yang diajak. Namun, kebanggaan itu tak bertahan lama. Tidak seperti waktu perayaan, Pasola kali ini lebih mencekam. Semua membawa tombak dengan mata tajam dari tempurung penyu dan belati. Mental Runa mendadak ciut ketika melihat musuh yang hampir dua kali lipat jumlah pasukannya dengan tatapan kebencian. Pemimpin musuh dan Bapa Runa, Umbu Mala, memasuki gelanggang dan baku cakap. Yunu, guru Runa, berpesan agar ketika terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka Runa harus lari dengan kudanya. Hingga suaranya tak terdengar, hingga jejak langkahnya tak terlihat lagi.
Pertempuran pecah. Pemicunya adalah batu besar di kampung Runa. Batu besar akan digunakan untuk mengubur raja-raja mereka. Jika pihak musuh kalah, mereka tidak lagi mengusik kampung Runa. Sebaliknya, jika pihak Umbu Mala kalah, Runa dan batu besar itu berhak menjadi milik musuh. Runa masih tak paham kenapa ia ikut dipertaruhkan. Konon, Runa adalah sosok yang ada di dalam ramalan.
Pasukan Umbu Mala terkenal pasukan yang kuat. Satu orang bisa menghabisi tiga sampai empat musuh. Tapi, mereka dibuat keheranan lantaran jumlah mereka menyusut drastis tanpa luka yang berarti dari pihak musuh. Umbu Mala dan pasukannya mulai terkepung. Yunu tumbang. Dari balik bukit muncul seseorang dengan senapan api menembak pasukan Umbu Mala. Runa yang masih syok dipaksa untuk lari, kembali ke kampungnya. Sewaktu istirahat untuk minum di sungai, Hitam -kuda Runa- menjadi santapan tiga buaya yang kelaparan. Pasukan musuh juga mulai menyusul, menyaksikan tiga buaya sedang berpesta. Dari percakapan musuhnya Runa menaruh dendam pada dua orang bernama Umbu Mao dan Prabu.
Semua orang telah menanti kepulangan kerabat mereka dengan nyanyian dan sajian. Namun, yang mereka saksikan hanya seorang anak yang pucat pasi dan berlumuran darah, berjalan tanpa sepatah kata menghampiri Mama Raja dan Rambu Tari, Mama Runa. Tatapan orang-orang mulai berubah, dari pnuh tanda tanya menjadi kebencian. Untung Mama Raja berhasil meredam amarah warganya. Mama Raja memberikan komando untuk siap berperang menyambut musuh yang akan datang dan memerintahkan Rambu Tari dan Runa pergi sejauh-jauhnya, hingga sebrang pulau jika perlu.
Runa dan Mamanya pergi dengan kuda menuju laut. Mereka tak sendirian. Pihak musuh yang sudah meluluhlantahkan kampung berhasil menyusul. Hampir saja Rambu Tari dan Runa berada di tangan musuh, pertolongan datang dari kenalan Umbu Mala. Beliau juga memberikan semacam belati kecil kepada Runa, "warisan dari Umbu Mala," katanya.
Runa dan Rambu Tari akhirnya tiba di pulau lain. Entahlah dimana itu. Mereka terpaksa lari dari kapal karena tidak membawa uang sepeserpun. Sial, keduanya tertangkap. Runa terpisah dengan Mamanya. Sebulan lamanya ia hidup di dermaga sebelum seorang paruh baya mengangkatnya menjadi anak. Datuak Tambunsai namanya, dari Sumatera. Runa belajar silat dari Datuak Tambunsai, bersama dua putra-putrinya. Selain belajar silat, Runa juga sering membantu dagang pakaian di pasar bersama Datuak. Di bawah asuhan Datuak Tambunsai, Runa berhasil menyelesaikan sekolahnya sampai SMA. Ia sadar diri bahwa tak mungkin baginya meminta lebih.
Hingga suatu hari ada seorang wanita yang terlalu kaya untuk sekadar berjalan-jalan di pasar tanpa pengawal dan hanya ditemani anak lelakinya. Wanita itu dijambret, tapi Runa berhasil menyelamatkan hartanya. Wanita itu akhirnya ingin mengangkat Runa menjad anaknya. Datuak Tambunsai melepas Runa dengan syarat bahwa Runa harus disekolahkan ke tingkat yang lebih tinggi. Runa diboyong ke keluarga barunya tanpa tahu bahwa bapak angkat keduanya adalah Prabu yang dulu menjadi dalang terbunuhnya Umbu Mala.
Yap, sepintas mirip dengan kisah Nabi Musa. Fir'aun dan bala tentara memburu bayi laki-laki. Ibu menghanyutkan anak bayinya yang masih merah. Anak itu lalu ditemukan oleh istri Fir'aun dan diangkat menjadi anak. Akankah kelak ia akan membalaskan dendamnya juga?
Enam belas tahun berlalu, Runa tumbuh menjadi seorang pria yang sukses. Bahkan, ia sanggup menyewa orang untuk mengelabuhi musuh yang mengejarnya, mempunyai asisten, serta mampu memadamkan Pulau Jawa dan Bali.
BABAK II
Cerita beralih mengisahkan beberapa mahasiswa di Kota Kembang. Siti, Aura, dan Arif ketiganya adalah atlet pencak silat, serta Ocha seorang mahasiswi yang terjebak satu kelompok dengan tiga atlet yang ilang-ilangan. Konflik cerita muncul ketika mereka hendak berlibur ke Sumba, kampung halaman Aura. Siti, jagoan langganan podium, punya masalah dengan perizinan orang tua. Arif punya masalah dengan ekonomi keluarga. Aura, masalahnya adalah dia diminta pulang oleh Bapa Tetua Adat karena harus mendengar pesan nenek moyang. Ocha punya masalah adu gengsi dengan Gank Tajir Remponk (GTR) yang juga akan berlibur ke Sumba. Selain daripada itu semua, satu masalah yang sama-sama mereka hadapi adalah uang untuk beli tiket yang tidak murah.
Beruntung Aura punya paman, Umbu Darli namanya, yang berbisnis kain tenun Sumba walau hanya bersedia meminjamkan beberapa kain untuk mereka jual. Umbu Darli bilang kalau ibu-ibu di Sumba sudah tidak lagi membuat tenun. Ada proyek padat karya yang membutuhkan tenaga mereka. Aura dan teman-teman sempat ragu bagaimana harus menjual kain yang terbatas ini. Mereka jual lewat toko online dan berhasil untung puluhan kali lipat dari modal. Tidak sia-sia mereka belajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Selesai sudah masalah mereka bersama. Tinggal masalah pribadi mereka yang belum.
Setelah diyakinkan oleh Ocha, Arif akhirnya mau berangkat ke Sumba. Arif berharap dapat langsung mendapat kain Sumba langsung dari penenunnya, sebanyak-banyaknya, lalu dia jual untuk bantu ekonomi keluarga. Tentang masalah Siti, Ocha juga punya solusi. Ocha berencana menculik Sitidan mereka pun setuju. Aura malah yang jadi ragu untuk pulang. Ia tidak percaya dengan mitos-mitos yang mengharuskannya pulang. Tapi, Si Miskol, adik Aura berhasil membujuknya. Daniel, nama asli Si Miskol, juga menyampaikan keadaan di sana. Memang benar ada proyek yang membutuhkan banyak tenaga manusia. Bahkan, empat ibu meninggal karena ikut kerja di proyek itu. Aura pun kembali berniat pulang, tapi dengan syarat tidak perlu ada upacara penyambutan.
Pagi buta keempat mahasiswa itu sudah ada di bandara. Tanah Sumba yang eksotik sebentar lagi mereka singgahi. Namun, dari pintu masuk Ayah Siti datang dan berteriak-teriak meminta putrinya pulang. Teman yang lain tidak bisa berbuat apa-apa. Siti dibawa ayahnya meninggalkan bandara. Selama perjalanan keduanya saling adu argumen. Hingga Siti menjawab kalau niat ayahnya itu baik, tapi bagaimana jika suatu saat Siti harus hidup sendiri tanpa bisa melakukan apa-apa karena selama ini semuanya ditangani ayahnya. Ayah Siti terdiam, Ibu yang sejak kemarin berada di pihak Siti hanya bisa tersenyum. Mobil yang mereka tumpangi berputar arah kembali ke bandara. Untuk pertama kalinya ayah Siti melepas putrinya.
Tanpa empat mahasiswa itu sadari mereka sedang berada dalam masalah. Orang sewaan Runa baru saja meninggalkan kursinya, keluar dari pesawat. Pesawat yang sama dengan yang Siti dan kawan-kawannya tumpangi.
BABAK III
Mereka naik pesawat dan sempat cek-cok dengan GTR. Kedatangan Siti sempat mengagetkan mereka. Siti yang mendapat kursi berdekatan dengan GTR merasa tidak nyaman. Dia melihat ada satu kursi kosong -kursi milik Runa Anapaku- yang kemudian Siti tempati setelah pesawat stabil mengudara. Kecerobohannya membuat mereka dalam masalah.
Tiba di Denpasar untuk transit, semua penumpang ditahan oleh pihak maskapai untuk tetap berada di dalam pesawat. Kemudian beberapa polisi dengan atribut lengkap masuk ke dalam kabin, tanpa basa-basi langsung memborgol Siti. Arif dan Aura yang mengaku sebagai teman Siti juga langsung kena borgol. Ocha hanya menggeleng dan aman. Ketiganya lalu diintrogasi. Arif sempat kena pukul oleh detektif Hasan. Akhirnya mereka terbukti tidak bersalah. Tapi, karena interogasi, pesawat mereka sudah take-off meninggalkan mereka. Ketiganya menyusul dengan pesawat lain memakai tiket pemberian polisi.
Di atas tanah Sumba, mereka mendapat suguhan pemandangan yang sangat indah. Ketiganya keheranan melihat Ocha yang masih di bandara sendirian. Siti yang paling kesal. Ia tidak diakui teman oleh Ocha. Sementara, Aura mencoba menenangkan situasi. Lalu dia mengajak mereka pulang ke rumahnya dengan tumpangan truk disko yang dikemudikan Miskol.
Sesampainya di kampung halaman Aura, dia lalu diminta hamayang mendengar pesan nenek moyang. Pesannya tidak Aura mengerti. Ia tambah kesal karena tekanan yang diarahkan kepadanya bertambah. Semua percaya cuma dia yang bisa memahami pesan itu.
Ocha tidak betah hidup di kampung Aura. Ocha kemudian diantar Miskol ke Kota, dia memilih tinggal di hotel. Paginya kampung Aura di datangi orang luar. Pakaiannya mewah, tapi mukanya sangat orang Sumba. Dia membawa semua laki-laki dewasa beserta kudanya. Setahu mereka untuk pasola. Namun, di dalam rumah mama Aura menangis. Mama memberitahu Aura kalau mereka semua akan diubah menjadi bukan manusia lagi. Mama menceritakan kalau pekerjaannya yang sesungguhnya adalah memberi makan kuda dan lelaki sumba yang sudah diubah, tubuh mereka jadi lebih besar, lebih garang, dan tampak tidak punya kesadaran. Mama dibayar mahal juga termasuk uang bungkam. Mama melanjutkan kalau dia tidak mau kehilangan suami untuk kedua kalinya, maka dia ceritakan ini ke Aura. Aura terkejut mendengar penjelasan Mamanya.
Namun, alih-alih menyelamatkan mereka, Aura justru memilih mengajak kedua temannya untuk pulang ke Kota Kembang. Arif dan Siti cuma bisa setuju setelah mendapat pesan Kang Mamat bahwa mereka harus segera pulang kalau mau ikut melanjutkan pertandingan. Miskol mengantar mereka tanpa tahu bahwa tujuannya adalah bandara. Sampai persimpangan bandara, dua saudara itu baku ribut. Bahkan, Aura memaksa dengan menempelkan belatinya ke leher Miskol. Sayangnya listrik juga mati di bandara itu. Tiket tidak bisa dibeli.
Aura meminta mereka ke bandara di kota barat. Miskol tidak mau mengantar, dia lebih memilih menyelamatkan kaumnya sendirian. Ketiga mahasiswa itu kemudian melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki meski Aura paham jaraknya dua ratusan kilometer. Aura sudah tidak dapat berpikir jernih. Hingga di pertengahan jalan mereka di hadang oleh dua orang yang menunggang kuda, lebih besar dari orang Sumba dan kuda biasa berkali lipat. Petarung misterius.
Baku hantam tak terhindarkan.
BABAK IV
Entah bagaimana ceritanya akhirnya ketiga petarung itu berhasil menang. Mereka melanjutkan perjalanan. Namun, tujuannya sudah lain. Setelah peristiwa itu, Aura sadar bahwa benar-benar ada yang tidak beres dengan kampung halamannya. Ketiganya memutuskan untuk menyelesaikan masalah di tanah Sumba terlebih dahulu sebelum pulang memenuhi panggilan Kang Mamat.
Mereka tiba di sabana tempat melepas kuda. Muncul ide untuk "meminjam" tiga ekor saja untuk teman perjalanan mereka. Saat mereka tengah sibuk menjinakkan kuda, pemilik kuda-kuda itu datang dengan marah. Hampir saja terjadi pertarungan. Setelah tahu bahwa Aura memiliki belati kecil itu, Umbu Ndara, pemilik kuda, menyerah begitu saja. Umbu Ndara paham siapa yang ada di depannya. Ia menyerahkan kuda-kudanya kepada Aura. Bahkan, ia juga mengajak mereka singgah untuk makan. Mengetahui tujuan ketiganya berkaitan dengan Runa Anapaku, Umbu Ndara menitip pesan kepada teman kecilnya. Umbu Ndara juga menceritakan bahwa saat kecil ia sering bermain dengan Runa karena ayahnya, Umbu Yunu, adalah guru dari Runa.
Aura, Siti, dan Arif lalu melanjutkan perjalanan. Mereka tiba di air terjun, tempat puluhan truk mengambil air dan di jaga oleh petarung misterius. Aura tercekat setelah mengetahui bahwa salah satu petarung misterius itu adalah Bapanya. Mau tidak mau pertarungan harus pecah kembali. Mereka kalah jumlah. Ketiganya pergi menyusuri gua di balik air terjun. Bertemu buaya putih yang jinak kepada Aura. Menemui percabangan di dalam gua. Masing-masing dari mereka mengambil satu jalan. Aura menemukan markas, di dalamnya sudah ada Runa, Prabu Junior, Dr. Lira, dan Bapa Aura. Aura berlari kembali ke percabangan setelah ketahuan dan dikejar oleh Bapanya sendiri. Arif juga kembali setelah bertemu dengan banyak buaya. Aura dua Arif kemudian menyusul Siti.
Ujung dari lorong itu ternyata kubur batu. Ada sedikit celah untuk keluar. Nampak juga banyak orang yang menghadap kubur batu itu sedang merayakan Wolla Mpoddu. Aura, Siti, dan Arif keluar dari dalam batu kubur membuat semua yang menyaksikan keheranan. Untung Aura sigap menyelamatkan suasana. Ia langsung berorasi dengan bahasa Sumba yang entah apa artinya dan mengangkat Siti dan Arif menjadi orang Sumba. Perayaan berlanjut. Mereka berusaha kabur setelah menyaksikan ada beberapa petarung misterius yang juga hadir di sana.
Sialnya Siti dan Arif tertangkap, tinggal Aura saja yang masih dikejar pasukan misterius. Aura bahkan sampai harus menceburkan diri ke sungai dan hanyut hingga tiba di Batu Kura. Tempat yang dipercaya sebagai awal kedatangan manusia Sumba. Empat pasukan misterius itu tetap berhasil mengejar dan bahkan memojokkan Aura. Beruntung Miskol datang tepat waktu memberi bantuan. Di malam gelap itu Aura tidak yakin bahwa perempuan yang membantunya adalah Siti karena dia lihat sendiri kalau Siti sudah tertangkap. Aura lebih terkejut lagi saat tahu bahwa yang membantunya adalah Ocha. Ternyata Ocha juga menguasai silat harimau seperti Runa. Bedanya ia sudah pensiun setelah mendapat sabuk hitam sejak lama. Umbu Ndara juga ikut membantu bersama Daniel.
Setelah membereskan petarung misterius beserta kudanya, dengan diantar Miskol, Aura dan Ocha masuk ke markas Runa untuk menyelamatkan Siti dan Arif. Saat akan masuk, Detektif Hasan tiba dan bergabung dengan mereka berdua. Ketiganya berhasil tertangkap. Mereka menyaksikan bagaimana Runa merebut belati Aura yang merupakan pasangan belati miliknya. Mereka juga harus menyaksikan bagaimana Runa mengeksekusi Prabu Senior yang telah membantai Umbu Mala dan pasukannya.
Runa berencana mematikan listrik Jawa-Bali untuk kemudian menggantinya dengan supply yang ramah lingkungan dan lebih murah. Ia juga ingin membalas dendam dengan mereka yang sudah merusak alam dengan penambangan, pencemaran, perusakan alam lainnya. Hingga masa kecilnya terenggut akibat ambisi pebisnis-pebisnis rakus itu.
Terjadi dentuman hebat setelah Runa mengaktifkan generatornya yang sudah diisi lengkap dua belati. Momen itu dimanfaatkan Arif dan Siti untuk melepaskan Aura dan Ocha, lalu kabur. Dalam pelariannya mereka bergabung dengan Dr. Lira dan Detektif Hasan. Di tengah perjalanan mereka perpisah ke tujuan masing-masing. Empat mahasiswa itu lalu kembali ke kampung Aura.
Di rumah, Aura menceritakan semua pada Mama. Mama juga akhirnya menceritakan bahwa dia adalah Mama dari Runa Anapaku, Aura dan Runa adalah saudara tiri. Mama Runa menyesal telah pergi membawa selamat Runa saat tahu berakhir seperti ini. Aura kemudian menghampiri Mama Raja dan berjanji akan membawa kembali Runa. Mama Raja pun memberi Aura tenun Sumba yang motifnya belum pernah ia lihat sebelumnya.
Di tengah keharuan itu, Miskol dengan truk diskonya yang berisik masuk kampung bersama puluhan truk lain yang membawa kuda dan penunggangnya untuk Pasola. Miskol mengaku bahwa ia juga mendapat pesan dari nenek moyang seperti kakaknya. Miskol pun memanggil semua laki-laki yang tersisa dan mengajak mereka membawa serta kuda-kudanya. Siti, Arif, dan Ocha yang menyaksikan hanya dapat takjub karena yang dilakukan Aura dan Miskol sudah seperti persiapan perang. Mereka pun akhirnya ikut bergabung dan siap menyambut perang yang benar bisa menyabut nyawa.
BABAK V
Pasola kali ini di gelar di pantai dengan pemandangan tebing dan jejeran batu kubur yang membentang menjadi latar arenanya. Semua orang berkumpul di sana. Pasukan kepolisian yang menyamar juga sudah mengepung tempat itu. Keempat mahasiswa itu membagi tugas, satu kelompok mengurus Runa dan satu lainnya mengatasi pemicu generator.
Baku tembak antara kepolisian dan Runa meletus di tengah keramaian. Semua kamera wartawan dan turis dihancurkan oleh petarung misterius yang mulai menguasai pertempuran. Di lain sisi, Arif dan Aura kesulitan mengatasi pemicunya. Muncul Prabu Junior membantu mereka dan membawa mereka ke markas untuk mengaktifkan pemicu. Runa yang mengetahui ada mobil yang berhasil keluar area langsung bergegas mengejar bersama pasukan misterius. Oh ya, nama pasukan itu Mala Hitam, Mala dari nama Bapa Runa dan Hitam dari nama kuda Runa yang mati dimakan buaya.
Arif, Aura, dan Prabu masuk melalui gua di air terjun yang tidak dijaga Mala Hitam. Mereka bertiga sempat bersitegang dengan tujuan masing-masing. Saat coba mengotak-atik pemicu, Runa datang lalu menghabisi Prabu Junior begitu saja. Arif dan Aura terpaksa harus meladeni Runa. Mereka kewalahan dengan silat harimau yang Runa kuasai.
Laiknya di cerita-cerita lain saat tokoh protagonis terpojok datanglah bantuan. Siti dan Ocha datang membantu. Mereka berempat baru bisa mengimbangi seorang Runa. Walaupun akhirnya mereka berempat terpojok. Sampai satu lagi pihak menolong, pasukan Miskol. Runa yang merasa kalah jumlah kemudian memanggil pasukan Mala Hitam. Kemenangan masih berpihak pada Runa hingga Umbu Ndara datang melawan teman kecilnya. Kedatangan Umbu Ndara berhasil membalikkan keadaan. Serum yang diberi Dr. Lira sangat membantu melumpuhkan pasukan Mala Hitam.
Runa ganti terpojok. Proyeknya gagal dan pasukan Mala Hitam-nya berguguran.
Happy ending di pihak Aura dan kawan-kawan. Runa dibekuk polisi. Ocha dan Arif ditawari bergabung akademi kepolisian. Keempatnya berhasil pulang ke Kota Kembang. Yang mengherankan adalah kecepatan pemulihan mereka yang tidak masuk akal. Luka mereka banyak sembuh hanya dalam semalam.
Kisah ditutup dengan reportase di televisi yang mengabarkan adanya anomali di Pulau Luwuk Banggai, Sulawesi. Tsunami yang konon terjadi karena pembangunan baling-baling raksasa pembangkit listrik mengusik kediaman Molokoimbu, Gurita Raksasa.
