Sepatu "Tempur" Warrior

Sudah agak lama saya ngidam sepatu baru. Mungkin karena sudah lama saya pakai sepatu lungsuran dan iri melihat adik mempunyai sepatu baru. Sejak saat itu, justru timbul rasa jengkel setiap meliat (sekaligus memakai) sepatu bekas yang tidak hancur-hancur itu. Entahlah, kami punya budaya bahwa apa pun ada momennya. Atau lebih tepatnya harus ada alasan yang jelas. Tidak terkecuali perihal membeli sepatu baru.

Sore hari sepulang dari mengunjungi galeri yang tengah mempersembahkan pameran di tengah kota Jogja, saya menyempatkan mampir ke sebuah toko sepatu di sekitar Simpang Lima Bejen. Kejadiannya sekitar lima atau empat tahun lalu. Saya tidak ingat dengan pasti, yang jelas waktu itu kami masih akrab dengan istilah-istilah pandemi. Oh iya, saya tidak sendiri. Seperti kunjungan-kunjungan ke galeri yang lain, saya selalu diajak oleh seorang kawan.

Di toko kecil itu tanpa banyak basa-basi saya langsung meminta mas-mas yang jaga untuk mengambilkan sepatu, "Warrior sik Tristan, Mas!" sambil menunjukkan contoh melalui layar handphone. Kami harus menunggu agak lama untuk menunggu mereka mengambil stok yang entah di mana. Setelah beberapa kali mencoba, saya putuskan mengambil warna hitam dengan ukuran 43. Ngunduri gedhe, begitu saya ingat pedoman banyak orang tua. Sialnya, dengan penuh percaya diri langsung ingin kubayari saja sepatu itu. Tidak taunya seluruh uang yang saya bawa, sampai hitungan receh-recehnya, masih kurang sepuluh ribu rupiah. "Bung, ana sepuluh ra? Tak nyilih dhisik," mohonku dengan wajah tolol. Untunglah kawanku memang orang baik.

Tahun terus berlalu dan sepatu itu masih setia saya ajak ke mana-mana. Bagian solnya yang semula putih sering saya jadikan media menangkal kebosanan ruang kelas. Kondisinya kian memprihatinkan, belel nan compang-camping. Namun, aksesorinya masih lengkap. Setidaknya masih dapat dilacak bentuk awalnya walau makin aus. Tidak jarang akan ada satu dua orang yang bilang "wuih, sepatu tempur tenan!" dan saya anggap sebagai pujian.

Akhirnya saya mulai tidak tega. Kemarin sore saya boyong sepatu itu berputar-putar mencari tukang sol atau tukang jahit yang mampu sedikit meredakan babak belurnya. Dapat. Beliau dengan seksama membolak-balik sepatu saya dan meminta waktu satu hari untuk menyelesaikan permintaanku yang rewel. "Nggen sol mboten usah dijahit nggih, Pak!" saya ulang-ulang memastikan agar beliau mengingat pesan penting itu.

Segala puji bagi Tuhan, CEO seluruh alam. Sore ini saya dapat membawa sepatu itu kembali dengan tebusan lima belas ribu. Sepertinya mereka dirawat dengan baik. Kiranya masih bisa menemani saya tiga tahun lagi.

Postingan populer dari blog ini

MUKADIMAH

Spes Qua, Spes Quae | Ulas Bukuku

Runa dari Sumba | Ulas Bukuku