Spes Qua, Spes Quae | Ulas Bukuku

    Buku karya Dr. Gabriel Possenti Sindhunata atau ada juga yang memanggil beliau Rama Sindhu berjudul "RATU ADIL: Ramalan Jaya Baya & Sejarah Perlawanan Wong Cilik" mulai kubaca menjelang Pemilu 2024. Momen yang sangat pas menurutku. Bagaimana tidak? Di saat masyarakat merasa frustasi dengan perlakuan negara, buku ini terbit menjelaskan fenomena ini dari berbagai peristiwa serupa yang pernah terjadi di berbagai belahan bumi. Rama Sindhu menjelaskan bagaimana rakyat atau yang ia sebut sebagai "wong cilik" merasa teraniaya dan menantikan juru selamat, Ratu Adil.

    Total ada sembilan bab yang mengisi buku ini. Singkatnya, Ratu Adil adalah wujud harapan dari wong cilik terhadap kehidupan yang lebih baik. Harapan ini juga lah yang membuat wong cilik bisa bertahan bahkan melawan. Akan muncuk satu sosok yang dinobatkan menjadi juru selamat untuk memimpin mereka. Al Masih, Dipanegara, dan banyak lagi; umumnya pemimpin-peminpin perlawanan ini adalah seorang pemuka agama. Mereka, wong cilik, akan rela menjadi martir dengan memikul harapan bahwa kehidupannya di alam setelahnya dan kehidupan anak-cucu mereka dapat lebih baik.

    Menilik dari konsep Hindu, kemunculan sosok Ratu Adil ini tak terlepas dari siklus waktu Catur Yuga (Kertayuga, Tertayuga, Dwaparayuga, Kaliyuga), dari masa yang makmur penuh kebaikan menuju kehancuran. Semakin besar kehancuran yang dihadapi oleh wong cilik, penantian mereka akan Ratu Adil yang membawa Kertayuga juga makin besar. Dalam buku ini banyak diulas berbagai perlawanan wong cilik menentang kekuasaan yang semena-mena. Mulai dari perlawan dengan adu senjata seperti yang terjadi pada Perang Jawa hingga perlawanan yang serupa dengan "ahimsa"-nya Mahatma Gandhi yaitu Gerakan Samin.

    Rama Sindhu mengaku cukup kewalahan mengumpulkan data atau literatur mengenai perlawanan wong cilik. Hal ini lantaran akses wong cilik terhadap budaya kepenulisan lumayan jauh dan dari pihak penguasa merasa tidak perlu untuk mendokumentasikan upaya-upaya mereka.

    Pada bagian epilog, Rama Sindhu dengan apik mengisahkan bagaimana Ratu Adil ini dianalogikan dengan seekor ayam jago. Bagaimana ayam jago itu akhirnya memupuk harapan wong cilik karena dengan ayam jagonya dia bisa setara dengan yang lebih tinggi derajatnya. Bagaimana seseorang yang sudah mentas dari urusan duniawi masih tidak bisa melepaskan kemelekatannya dengan harapan pada ayam jago. Bagaimana seorang ayah dan seluruh kota mewarisi tekad perlawan seorang pemuda bersama ayam jago yang ditinggalkannya. Hingga bagaimana berbagai suku bangsa, khususnya jawa, mengartikan ayam jago sebagai bentuk pembebasan dalam adat pernikahan.

    Pada akhirnya tidak ada lagi yang dimiliki oleh wong cilik kecuali "Ayam Jago Ratu Adil". Wong cilik yang selalu merawat harapan, ialah spes qua. Tapi harapan-harapan juga disandarkan kepadanya, ialah spes quae.


Postingan populer dari blog ini

MUKADIMAH

Runa dari Sumba | Ulas Bukuku