Pulang | Ulas Bukuku

Bosan sudah saya mengulas buku-buku lawas. Pada kesempatan kali ini perkenankan saya mengulas novel kembali. Dan hasil meminjam lagi.

Tanpa perlu membubuhkan nama penulisnya, pembaca Laut Bercerita, Malam Terakhir, dan atau karyanya yang lain pasti langsung bisa menebak siapa pnulisnya. Leila konsisten mengajak tokoh-tokoh Mahabharata, memperkenalkan dapur nusantara, menyajikan rangakaian kalimat yang ringan, segar sekaligus berani, serta ritual menata piring keluarga Dimas Suryo dengan keluarga Arya Wibisono. Tidak perlu diragukan lagi bagaimana Leila Chudori memainkan teater di kepala pembacanya. Apik.

Novel ini mengisahkan bagaimana kejadian 30 September 1965 beserta dampaknya. Baik mereka yang terlibat langsung, maupun sanak kerabat lainnya. Mereka yang kadung di luar, mencari suaka dan tak dapat pulang. Eksekusi tanpa peradilan umum dijalankan. Wawancara mencekam menanti korban.

Dibuka dengan prolog dan diisi dengan tiga babak besar. Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam. Tokoh-tokoh dalam novel ini diceritakan dengan porsi masing-masing yang pas. Sudut pandangnya juga bervariasi. Tak selalu sebagai orang pertama. Dan tentu tidak juga selalu sebagai orang ketiga. Bagiku babak Dimas Suryo bertugas mengisahkan latar belakang para eksil dan perjuangan mereka menemukan kehidupan di negri orang. Lintang Utara, saya juga masih bingung mengidentifikasi babak ini. Menurut hemat saya, Lintang Utara menjadi bukti tekad para eksil dalam bertahan. Terakhir, Segara Alam yang syarat akan keteguhan dan kilat perlawanan.

Pada bagian prolog, pembaca akan diperkenalkan dengan sosok Hananto, pimpinan redaksi sebuah media, yang berafiliasi dengan pihak kiri. Hananto sedang dalam pelarian setelah peristiwa '65. Ia menyamar dan bekerja di sebuah percetakan sebelum empat orang berperawakan sangar menjemputnya.

Dimas Suryo

Dalam rentang 1960-an hingga 1990-an; babak ini mengisahkan kehidupan Dimas Suryo, rekan kerja Hananto, yang tidak dapat kembali ke Indonesia.

Dimas Suryo memulai kehidupannya secara resmi menjadi eksil di Paris pada 1968. Di negri baru, Dimas bertemu dengan seorang mahasiswi, Vivienne Devereaux, dan memutuskan hidup bersama dengannya. Ia bisa terdampar di sana setelah sebelumnya berlayar menunaikan tugas dari Hananto untuk melakukan pertemuan di beberapa negara.

Hananto memang atasannya di kantor, tapi di luar itu mereka adalah kawan, sahabat. Dimas dan Hananto, serta rekan lain telah bersinggungan sejak awal masa perkuliahan Dimas. Mereka tiggal di daerah yang sama dan tumbuh bersama. Hanya saja Hananto Prawiro dan Nugroho lebih senior dan berpengalaman dari mereka, Dimas dan Risjaf. Pujaan hati kedua mahasiswa baru itu akhirnya memilih dua lelaki senior penuh pengalaman.

Kisah roman Dimas, Surti, dan Hananto cukup unik. Ikatan Dimas dengan Surti tidak bisa dianggap sepele. Toh, kelak saat Surti punya anak dengan Hananto, ketiga anaknya memiliki nama pemberian dari Dimas. Tetapi, Surti tetap dara yang butuh kepastian. Hananto datang menawarkannya pada Surti. Tanpa Surti ketahui Hananto tetaplah seorang petualang. Rumit.

Kembali kepada kisah Dimas di Paris. Lintang Utara lahir menjadi putri Dimas dan Vivienne. Namun, tak mudah bagi Dimas melewati masa-masa sulit sebelum akhirnya memutuskan hidup bersama Vivienne. Adiknya, Aji Suryo, rutin bersurat mengabarkan kondisinya dan ibu yang beberapa sempat dipanggil interogasi. Ia mendapat kabar bahwa ibunya telah berpulang. Dimas tidak bisa kembali. Bahkan, hanya untuk sekadar menjenguk peristirahatan ibunya.

Dimas, Mas Nug, Tjai, serta Risjaf akhirnya bangkit. Mereka berempat membentuk koperasi dan mendirikan restoran Tanah Air. Keterampilan menguasai dapur seorang Dimas Suryo tidak bisa dianggap enteng. Setiap pengunjung nampak selalu puas dengan hasil masakannya. Tiga pilar yang lain juga punya tugas masing-masing, seperti Tjai yang bertanggung jawab dalam kalkulasi, Risjaf dengan tugasnya menjadi kurator dan mengonsep acara di restoran, serta Mas Nug yang untuk sementara dibiarkan menjadi sosok ketua karena tengah kehilangan Rukmini, istrinya.

Suatu hari saat berada di metro, Dimas tetiba terjatuh pingsan.

Lintang Utara

Anak semata wayang Dimas Suryo yang mewarisi seluruh kecantikan Maman-nya. Pada tahun 1998, Lintang harus menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa Sorbonne. Membuat dokumenter mengenai peristiwa 1965 dan para korbannya. Tugas itu menjadi kian rumit karena statusnya sebagai seorang anak eksil dan hubungannya dengan Dimas sedang tidak baik-baik saja. 

Sejak remaja, Lintang tinggal berpindah-pindah, sehari di rumah Ayahnya dan sehari yang lain di rumah Mamannya. Sebelumnya memang sudah sering terjadi pertengkaran di antara kedua orang tuanya. Hanya saja di malam itu, saat Lintang menemukan sebuah surat dan menyerahkannya pada Maman, menjadi puncak pertikaian keduanya. 

Narayana Lafebvre, seorang keturunan Indo-Prancis seperti Lintang. Perbedaannya adalah bahwa Nara bukanlah anak seorang eksil politik dan masih memiliki keluarga yang hangat. Lintang sering berkunjung ke rumah kekasihnya ini hanya untuk sekadar membaca buku sambil bermalas-malas. Orang tua Nara tak pernah menampakkan penolakan terhadap kehadiran Lintang, dan itu membuatnya nyaman.

Konflik Lintang dengan Dimas bermula saat keduanya makan malam bersama Nara untuk pertama kalinya. Dimas memandang Nara sebagai pemuda yang prestisius. Pemilihan tempat, puisi favorit, dan refrensi lain dari Nara dipandang Dimas sebagai sisi borjue yang bertentangan dengan dirinya. Makan malam itu tidak berjalan dengan baik dan berujung pada puasa bicara antara Ayah dengan anak perempuannya.

Dalam babak ini terdapat satu bagian yang menguraikan kemiripan karakter Dimas dengan dua tokoh wayang favoritnya, Bima dan Ekalaya. Kedua tokoh itu merupakan perwujudan dari kesetiaan. Bima dengan ketulusan dan kesetiaannya terhadap Drupadi. Serta Ekalaya dengan kesetiaan dan pengabdiannya pada Resi Durno. Kesetiaan keduanya tidak memperoleh balasan, bahkan justru peng-khianatan. Saya pakai kata "peng-khianatan" karena belum menemukan diksi yang tepat. Drupadi lebih mencintai Arjuna dan Resi Durno menagih guru-dakshina dengan memotong ibu jari Ekalaya.

Entah kemiripan dengan hubungan yang mana yang ada pada Dimas. Hubungannya dengan Surti yang akhirnya lebih memilih Hananto. Atau, hubungannya dengan pemerintah Indonesia yang telah menolaknya sekian kali. 

Lintang mencoba berdiskusi dengan Maman-nya perihal rencananya terbang ke Indonesia untuk menggarap tugas akhir dokumenternya. Vivienne hanya menanyakan apakah hal itu sudah Lintang bicarakan dengan Ayahnya. Kedua orang tuanya faham bahwa Lintah bukan seorang remaja yang perlu meminta restu atau izin. Murni budi pekerti Lintang yang menuntunnya merasa perlu membicarakan tugas ini.

Setelah mendapat kabar dari Maman-nya bahwa Ayahnya jatuh sakit, Lintang mulai meruntuhkan pertahanannya. Ia mengunjungi kediaman Dimas yang takut dengan jarum. Lintang juga menyempatkan membahas tugas akhirnya sebelum Ayahnya tertidur karena efek obat yang diminumnya. Lintang tak sengaja menemukan surat-surat dari Indonesia. Dari sanalah Lintang mulai dapat merangkai puzzle-puzzle yang rumpang. 

Ada satu kalimat dari Vivienne yang menurutku sangat bagus, "kita tak boleh berpretensi mengetahui atau memahami persoalan antara sepasang suami istri. Hanya mereka berdua yang tahu problem diantara mereka."

Beberapa hari berlalu. Hubungan Ayah dan anak ini mulai membaik. Sebelum keberangkatan Lintang ke Indonesia, ia menghabiskan waktunya seharian dengan Dimas menyusuri Paris. Di salah satu pemakaman, Dimas mengungkapkan latar belakang hidupnya dan juga harapannya untuk bisa disemayamkan di Karet bersama Chairil Anwar.

Segara Alam

Babak ini secara keseluruhan menjelaskan kehidupan mereka yang ada di Indonesia. Alam, Bimo, keluarga Aji Suryo, para korban September 1965, serta serba-serbi kejadian Mei 1998. Semua bagian dalam babak ini dihubungkan oleh kedatangan Lintang untuk menggarap film dokumenternya.

Diawali dengan perkenalan kita pada Segara Alam, putra bungsu dari Hananto dan Surti. Alam tumbuh menjadi lelaki yang pemberani pun pandai berkelahi. Ia sibuk dalam mengurusi LSM Satu Bangsa, lembaga yang mencoba memperjuangkan 'kebenaran'. Karakternya mungkin terbentuk dari serangkaian kejadian yang menimpanya sejak kecil. Ingatan tentang ayahnya cuma sebatas kelebatan saja. Tapi, sosok ayahnya yang kharismatik dan tak kenal mundur nampak diwariskan penuh kepadanya.

Berkebalikan dengan Alam, Bimo cenderung suka mengalah. Alam seringkali harus melindungi Bimo saat menghadapi perundungan. Duo karib anak 'penghiant negara' ini selalu dikucilkan, tapi tidak bisa disingkirkan begitu saja. Alam dengan segudang prestasi karatenya dan ayah sambung Bimo yang merupakan anggota ABRI. Frekuensi kekalahan Bimo di sekolah dinilai terlalu tinggi oleh ayah sambungnya. Bimo sering mendapat siksaan tambahan kala Pak Prakosa tahu anak tirinya kalah lagi. Bisa melanjutkan studi di tempat yang agak jauh bersama Alam menjadi kesempatan Bimo untuk keluar dari neraka itu. Saat dewasa ini juga Bimo dapat berkesempatan bertemu dengan ayahnya, Nugroho, meski barang cuma dua kali di luar negri.

Lintang tinggal di rumah Om Aji selama pengerjaan tugasnya di Jakarta. Om Aji juga punya masalah sendiri dengan anak sulungnya, Rama. Berbeda dengan Andini yang bisa menerima kondisi hidupnya, Aji selalu merunduk, bahkan melepas nama Suryo untuk hidup lebih bebas. Puncaknya adalah saat Rama mengajak satu keluarganya plus sepupunya untuk makan malam bersama dengan keluarga kekasihnya. Sayangnya, kekasih Rama adalah anak seorang petinggi yang taat dengan aturan 'Bersih Diri' dan 'Bersih Lingkungan'. Cinta Rama kandas karena kebijakan pemerentah.

Lintang memulai kegiatan wawancaranya. Satu dua ke luar kota, lebih banyak yang tidak mau bicara. Sesi terpanjang ia habiskan dengan Tante Surti. Seharian. Hampir seharian juga ia digoda oleh Tante Surti dan Kenanga tentang hubungannya dengan Alam.

Jakarta mulai memanas. Pekerjaan wawancara dan membuat video telah usai. Demonstrasi terjadi dimana-mana. Lintang tidak mau melewatkan kesempatan untuk lebih mengenal tanah kelahiran ayahnya. Tambah panas lagi saat harga BBM resmi dinaikkan. Tragedi Trisakti juga turut diangkat dalam babak ini. Penjarahan dan apapun itu yang bisa disebut kekerasan tertuju pada mereka warga keturunan, etnis Tionghoa. Lintang tida tahu lagi harus menyikapi kondisi negaranya dengan bagaimana.

Oh ya, ada epilog. Berisi pesan Dimas Suryo dan bagaimana Lintang bercerita tentang kepulangan Ayahnya ke Jakarta.



Postingan populer dari blog ini

MUKADIMAH

Spes Qua, Spes Quae | Ulas Bukuku

Runa dari Sumba | Ulas Bukuku