Mangir | Ulas Bukuku

 Sebenarnya sudah setahun lebih (ternyata) saya tidak menulis. Ulasan sebelumnya mengenai Bumi Manusia merupakan draft dari awal September tahun lalu. Saya sempat "menyerah" di blog ini karena halaman-halaman di sini tak kunjung sukses di-crawl oleh Google. Payah betul. Medium jadi pelarian asa saya. Sampai notif email muncul di minggu pertama September ini. Surel dari google yang mengabarkan telah berhasil mengindeks beberapa halaman, sehingga dapat muncul di laman pencarian. 

------------------- Mungkin sekian dulu intermeso-nya----------------------------------------------------------

Kembali dengan karya Pramoedya Ananta Toer yang bertajuk Mangir. 

Karya ini cukup emosionil bagi saya. Mangir yang merujuk pada wilayah era Mataram ini amat dekat secara geografis. Tidak menutup kemungkinan dalam darah saya mengalir semangat kebebasan rakyat Mangir. Serta topik ini menjadi bahasan yang beberapa tahun terakhir saya diskusikan bersama seorang kawan. Banyak sekali poin yang mungkin berkaitan antara kami dengan Mangir, tentang siapakah leluhur kami, bagaimana kaitan antar situs yang ada, bagaimana fakta sejarah dari berbagai cerita yang berkembang, hingga di mana saja keturunan Mangir saat ini berada.

Buku kali ini lebih cocok disebut sebagai naskah drama daripada novel. Tidak terlalu banyak narasi dan latar yang dibangun, lebih dominan dialog masing-masing tokoh. Dan memang sudah ada pernyataan di-awal terkait tujuan penulisan buku ini sebagai bahan pentas, lengkap dengan panduan tata busana setiap tokoh.

Kesaktian-kesaktian dan peristiwa yang selama ini (masih) tersebar disunting sedimikian rupa menjadi lebih logis sesuai kebutuhan pertunjukkan. Dalam tutur lokal, Ki Ageng Mangir Wanabaya dikenal memiliki tombak sakti yang beratributkan nama Tombak Baru Klinthing. Pram mewujudkan Baru Klinthing sebagai seorang karib sekaligus patih bagi Wanabaya. Serta hal-hal yang lain.

***



Sebelum Mataram berdiri, alas Mentaok yang sekarang menjadi wilayah D.I. Yogyakarta didominasi hutan dan wilayah-wilayah kademangan dan perdikan. Kademangan merupakan wilayah yang masih terikat hukum administratif dengan suatu kerajaan di atasnya. Sedangkan, perdikan merupakan wilayah merdeka yang tidak terikat alur komando dari kerajaan manapun.

Singkat cerita, setelah intrik politik yang rumit, Danang Sutawijaya a.k.a Panembahan Senopati selaku pendiri Kerajaan Mataram Islam hendak memperluas wilayah kekuasaan di sisi barat yang ditempati Ki Ageng Mangir. Terjadi perang yang tidak berkesudahan. Bahan bakar militer Mangir yang solid bertemu dengan bara keserakahan Mataram. Hingga kegemilangan Wanabaya di palagan memeras sportivitas Danang Sutawijaya.

Otak Sengkuni milik Danang Sutawijaya bekerja. Ia tidak segan mengirim putrinya sendiri, Sang Pembayun, menjadi telik sandi. Wanabaya muda yang sedang tinggi testosteronnya jatuh hati pada Pembayun yang tengah bersandiwara menjadi biduan. Keduanya lantas menikah setelah nego alot antara tetua Mangir dengan demang-demang sahabat Mangir. 

Tidak disangka, tugas yang Pembayun emban ini menjadi pisau bermata dua baginya. Perintah utama kepadanya adalah mendekati Wanabaya dan kemudian mengeksekusinya. Cinta tidak ada di skenario Panembahan Senopati dan Pembayun. Bak pepatah Jawa 'witing tresna jalaran saka kulina', perlakuan Wanabaya kepada Pembayun yang tidak ia temui dilingkungan Kraton membuatnya jatuh hati. Tugas itu mangkrak, hingga Ki Juru Martani memerlukan datang mengingatkan.

***

Kedatangan Ki Juru Martani yang menagih tenggat tugas Pembayun membuat jati dirinya terbongkar. Wanabaya sempat dibuat murka dengan tipu muslihat keluarga Kraton yang dinilai tidak ksatria dan melampaui batas. Putra yang dikandung Pembayun menjadi penenang Ki Ageng Mangir. Wanabaya menerima undangan mertuanya untuk sowan dan meminta restu, meskipun tahu konsekuensi dibelakangnya.

Bala tentara Mangir dikumpulkan. Mereka akan long march mengawal Ki Ageng menjemput permaisurinya di dalam benteng musuh.

***

Dalam perjalanan ini terdapat perbedaan antara penuturunan lokal dengan naskah Pram. Penutur lokal akrab dengan peristiwa tombak Baru Klinthing yang harus terus terpotong setiap melewati pos-pos Mataram karena melebihi dimensi gapura. Sedangkan, naskah Pram mengisahkan bala tentara Mangir yang berkurang di setiap pos-pos Mataram karena jamuan dan siasat Panembahan bersama Ki Juru Martani.

Hingga setibanya di Kraton Mataram, kekuatan militer Mangir sudah jauh melemah.

Dalam penuturan lokal, Senopati berhasil mengeksekusi Wanabaya tanpa ada perlawanan. Namun, versi Pram lebih dramatis dan logis. Seorang Ki Ageng tidak akan begitu saja menyerahkan dirinya tanpa perlawanan, terlebih di istri dan anaknya ada di tangan musuh. Pram membuat Wanabaya dan Baru Klinthing bertempur sampai tetes darah terakhir untuk menyelamatkan Pembayun

***

Versi Pram menurut saya memnag lebih logis jika mengetahui bahwa cerita ini sampai sekarang dituturkan oleh pihak pemenang, Mataram. Akan sangat wajar jika porsi kejayaan Mangir diredupkan dan kesaktian Senopati sebegitu diagung-agungkan. Pada akhirnya kemenangan dalam perang tidak pandang etika. 'Etik, etik.. ndasmu etik!' Begitu kata Prabowo.

Mengenai poin-poin diskusi kami sebelumnya itu masih menjadi PR saya untuk investigasi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUKADIMAH

Spes Qua, Spes Quae | Ulas Bukuku

Runa dari Sumba | Ulas Bukuku