Bumi Manusia | Ulas Bukuku

     Akhirnya saya baca juga buku ini setelah beberapa purnama tersegel di antara tumpukan buku lainnya. Ada dua seri dari Tetralogi Buru yang berhasil kami pinang sewaktu pra-pesan bertepatan dengan peringatan Seabad Pramoedya Ananta Toer --saya dengan Bumi Manusia dan abang saya dengan Anak Semua Bangsa. Desain cover-nya simpel, cukup simpel. Hanya sampul dengan warna biru polos --yang konon terinspirasi dengan blue resistant yang menjadi warna gerakan #IndonesiaDarurat-- dengan tulisan judul dan nama penulis menggunakan font Time New Roman atau sejenisnya. Oh iya, ditambah pula dengan sabukbuku (entah apa namanya) berwarna putih dengan potret Pram di bagian depan dan sepenggal kutipan untuk bagian belakang.



***

    Seperti ini lah jika saya harus menceritakannya kembali (tentu dengan banyak pemangkasan dan mungkin tidak runut):

    Minke, tokoh utama kita, seorang pribumi yang berkesempatan sekolah di HBS --Hoogere Burgerschool, termasuk sekolah elit yang hanya dapat diikuti oleh keturunan Eropa, Tionghoa, atau bangsawan pribumi-- daerah Surabaya. Suatu hari Minke diajak oleh kawannya, Robert Suurhof, mendatangi pesta di daerah Wonokromo. Rumah bak istana, penuh dengan manusia Totok (Eropa Murni), Indo (campuran Eropa-Indo), dan sedikit Tionghoa. Suurhof memberi tantangan kepada Minke untuk mendekati Annelies Mellema, adik dari Robert Mellema kawan si Suurhof. Jika Minke berhasil mendapatkan hati sosok Banowati tersebut, Suurhof berjanji tidak akan mengganggunya dan akan menghormatinya. Minke sempat minder karena yang dipijaknya sekarang adalah rumah keluarga Mellema yang terkenal seantero Surabaya karena perusahaan olahan susunya dan Nyai Ontosoroh --sosok yang banyak diperbincangkan berhasil mengelola perusahaan. 

    Pada zaman itu aktivitas perempuan sangat terbatas, dibatasi tabu yang sangat banyak tanpa alasan jelas. Tidak ada perempuan yang disekolahkan dan melajang hingga usia 20 tahun. Beberapa gadis yang berparas cantik dengan ayah berwatak busuk hanya akan bernasib nahas, berakhir menjadi selir atau gundik bangsawan dan elit Eropa.

    Keberuntungan berpihak pada Minke. Dalam sekali pertemuan, hati Annelies dapat ditaklukkannya. Nyai Ontosoroh selaku Mama-nya pun merestui. Bahkan, Minke diundangnya untuk datang kembali lain waktu, segera. Kejadian itu Minke ceritakan kepada sahabat sekaligus rekan bisnisnya, Jean Marais --pelukis dan desainer furnitur berdarah Prancis. Jean hanya berpesan agar Minke tetap adil sejak dalam pikiran. Segala tuduhan dan anggapan buruk mengenai keluarga Nyai Ontosoroh harus Minke buktikan sendiri, toh ia juga seorang terpelajar HBS yang mampu menilai.

    Hubungan Minke dan Annelies semakin lekat. Nyai sampai-sampai menawarkan satu kamar untuk tinggal dan satu kereta kuda untuk bepergian sesuka Minke. Minke tinggal di Wonokromo. Peristiwa tersebut menjadi desas-desus sekolah. Perangai siswa HBS berubah kepada Minke, dirasainya nampak mereka menjauh. Termasuk Robert Suurhof. Dipandang mereka seorang Minke mulai nakal karena tinggal bersama gundik. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bahan yang bagus untuk Minke sebagai penulis. Kisah hasil inspirasi dari kehidupan barunya mulai diterbitkan koran. 

    Tentu tidak seru jika sebuah kisah tanpa ada seteru di dalamnya. Laki-laki keluarga Mellema menjadi oposisi Minke dalam seri ini. Tuan Mellema yang menghardiknya sebagai 'Monkey', Robert yang merasa terancam posisinya sebagai 'lelaki waras' di rumah, dan Ir. Mellema --anak sah Tuan Mellema-- yang datang hendak menguasai kejayaan keluarga mereka. Masalah datang silih berganti. 

    Kabar tentang kehidupannya di rumah seorang gundik membuat keluarganya di Kota B meradang. Surat-surat mereka juga tak Minke hiraukan. Dijemputnya paksa dengan tenaga polisi. Ternyata Ayahanda-nya menjadi Bupati Kota B. Ia akan segera dilantik dan memerlukan seorang penerjemah. Mau tidak mau Minke harus laksanakan pula tugas itu. Asisten Residen dibuat kagum olehnya. Dikenalkannya kepada kedua anak Tuan De La Croix, yang kelak menjadi sahabatnya meski hanya berkoresponden melalui surat.

    Selain dari keluarganya, masalah kembali datang melaui Pengadilan. Sepulang dari Kota B, Minke dikuntit oleh si Gendut. Sewaktu tiba di Surabaya, Darsam menambahkan bahwa Robert Mellema menginginkan nyawa Minke, jadi ia menyarankan jangan tinggal dulu di Wonokromo. Bebannya bertumpuk. Badannya tak dapat lagi menahan. Minke jatuh sakit. Begitu juga dengan Annelies yang tak mampu lepas lama dan jauh dari Minke turut sakit. Minke diboyong ke Wonokromo setelah seminggu tinggal dipondokkannya demi menjadi obat sekaligus dokter bagi Banowatinya. Suatu hari si Gendut diketahui oleh Darsam tengah mengamati kediaman Wonokromo. Tanpa pikir panjang Darsam mengejarnya. Seisi rumah turut memperingatkan, bahkan mengejar Darsam. Lelaki Madura itu tak mau dengar dan terus mengejar hingga masuk di kediaman Baba Ah Tjong. Masalah baru muncul di sini. Si Gendut tak terkejar, justru Tuan Mellema yang ditemukan telah terbujur tanpa nyawa di dalam rumah plesiran Baba Ah Tjong itu. Sampailah masalah itu kepada Pengadilan. Diobok-obok pula urusan rumah tangga Nyai sekaligus Minke. 

    Ayahanda yang mendengar kabar tak menyenangkan itu geram dan mengeluarkan Minke dari HBS. Tanpa wali yang menjaminnya seorang siswa tidak dapat mlanjutkan belajarnya. Asisten Residen dengan baik dan entah mengetahui dari mana berkenan menjadi wali Minke. Namun, pihak HBS dengan segala pertimbangan mengeluarkan Minke. Kecuali Juffrow Magda Peter, guru sastra, yang tidak setuju dengan keputusan itu. Ia tidak terima jika siswa dengan kemampuan menulis seperti Minke harus dikeluarkan beberapa bulan sebelum kelulusan. Dengan tulisan-tulisan Minke melawan. Dan akhirnya dapat sekolah kembali.

    Lulus dari HBS. Minke dan Annelies menikah. Menikah dengan cara islam dan adat Jawa. Kebahagian mereka hanya bertahan beberapa bulan hingga Ir. Mellema datang melalui surat undangan Pengadilan. Gampangnya, dengan kematian Tuan Mellema, Ir. Mellema sebagai keturunan sah-nya berhak atas warisan --dalam bagian yang besar. Menghilangnya Robert Mellema dan usia Annelies yang masih di bawah anggapan dewasa membuat keseluruhan warisan 'untuk sementara' di kelola oleh Ir. Mellema. Perwalian Annelies juga diserahkan kepada Ir. Mellema dan ia harus diboyong kembali ke tanah leluhurnya sebab pernikahannya tak diakui. Nyai dan Minke murka dalam-dalam. Annelies pun menurun kesehatannya dan seakan hilang kesadarannya, kemauan untuk hidup.

    Panji Darman, sahabat Minke dari HBS dan karyawan baru Nyai, ditugaskan untuk memantau dan melaporkan kondisi Annelies sampai habis masa perwalian Ir. Mellema karena Nyai dan Minke berdua ditetapkan sebagai tahanan rumah. 


To Be Continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUKADIMAH

Spes Qua, Spes Quae | Ulas Bukuku

Runa dari Sumba | Ulas Bukuku