Suporter Bola dan Aksi Massa
Demonstrasi yang bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda kemarin punya warna baru. Hijau, Biru, dan Merah. Konon mewakili warna dari tiga klub dan suporter bolanya. Hijau PSS, Biru PSIM, dan Merah Persiba. Ada tambahan tiga suara besar dalam aksi massa kali ini. Ketiganya berhasil bersatu, sejalan dengan tiga poin Keputusan Kongres Pemuda II. Ruas jalan Malioboro dan Titik Nol Jogja seakan menyambut mereka.
Di tengah orasi-orasi yang coba membakar semangat, nampak beberapa rombongan asyik bermain bola. Seruan-seruan kekecewaan kepada management dan chant-chant suporter turut menggema. Sepak bola bukan lagi sekadar permainan. Ia sudah menjadi identitas, wadah keresahan, dan alasan untuk berdiri bersama.
Kita semua punya keresahan masing-masing terhadap pihak yang sama. Hingga saat menjelang magrib, massa menyatakan sikap, dan mayoritas masyarakat serta mahasiswa mulai membubarkan diri. Tersisa tiga kelompok suporter yang kembali ke utara menuju Gedung DPRD. Melanjutkan aksi.
Sayangnya, aksi suporter harus dicemari oleh provokasi. Fokus suporter untuk menyampaikan tuntutan teralihkan untuk bertahan dari lemparan batu dan umpatan preman dari jalan Perwakilan. Bentrokan berlangsung hingga larut malam. Apa yang membuat mereka bertahan? Daya gempur dan stamina suporter ada di level yang berbeda atau komitmen mereka dalam mendukung tim-nya? Tidak menutup kemungkinan ada alasan lain. Kabarnya aparat dengan bantuan preman perlu waktu hingga tengah malam untuk sekadar membubarkan. Kondisi lokasi pasca aksi jelas menggambarkan betapa panjang dan melelahkannya malam itu.
Kemarahan suporter boleh orang bilang mentah, tapi itu murni. Marahnya nyata marah. Marah yang menuntut. Marah yang tidak mudah padam. Marah yang kiranya patut dicontoh pada setiap gerakan. Marah yang juga bukan tanpa alasan. Marah yang bahkan dapat menyatukan.
Barangkali ada yang perlu kita renungkan, apa yang membuat perbedaan dapat dikesampingkan demi sesuatu yang lebih penting? Dan kemana kita harus melepasnya?
Cara suporter mencintai tim-nya sudah sewajarnya menjadi contoh bagi kita. Suporter-suporter tak segan mengkritik performa tim kebanggannya, misuhi pemainnya, bahkan sampai mengecam management-nya. Tujuannya jelas, suporter ingin tim-nya membanggakan dan dibanggakan. Gaji yang disisihkan demi tiket dan atribut-atribut klub. Waktu yang diluangkan demi menonton dan menghafal chant. Tenaga yang dicurahkan demi koreografi dan konvoi yang menawan. Semuanya kaffah, totalitas. Dan yang paling penting, hadirnya logika. Upaya yang suporter lakukan linear dengan tujuan mereka menginginkan tim membanggakan.
Sebagai wong Jawa sing ra penakan, tuntutan perubahan seringkali tidak tersampaikan hanya demi menjaga perasaan. Suporter di Jogja mengajarkan satu hal sederhana, mencintai bukan berarti tutup mata. Justru karena peduli, seseorang berani menuntut perubahan.
Tulisan ini sebagai bentuk kekaguman dan terima kasih terhadap suporter bola di Jogja yang telah berkenan mendampingi dan melanjutkan aksi pada Rabu, 28 Oktober 2026.
.png)
Komentar
Posting Komentar